Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Jumat, 11 Juni 2010

Pojok Pantun

Jumat, 11 Juni 2010
0 komentar
PANTUN MELAYU

Bumi Melaka begitu mewah
Dagang dan santri menjadi meriah
Banua Keling datang berhebah
Sirih pinang buat persembah

Sultan Iskandar Sultan Melaka
Abad empatbelas kisah bermula
Ole datang bersama bahtera
Adat resam menjadi gempita

Makan sirih di dalam puan
Puan datang dari Deli
Melayu, Cina, Keling juga Pagan
Sirih junjung jadi penyeri

Budaya Melayu terkenal sudah
Istana dan rakyat begitu terserlah
Sejak dahulu adat bersirih tiada gundah
Hingga kini jadi pengkisah

Sirih adat sirih dijunjung
Buat pengubat oleh si Dukun
Semuga ia jadi penyanjung
Kepada rakyat turun temurun

Gadis Acheh berhati gundah
Menanti teruna menghulur tepak
Gula manis sirih menyembah
Adat dijunjung dipinggir tidak


Buah keranji buah delima,
Mari letak atas meja;
Sirih pinang sudah ku terima,
Tanda jadi kita berdua.

Burung tekukur terbang ke Jedah,
Bubuk padang sehelai tak layu;
Sirih sekapur tanda penyudah,
Rokok sebatang bercerai lalu.

Cuba-cuba menanam sirih,
takut nak ada tumbuh sulurnya;
Cuba-cuba membuat kasih,
Takut nak ada unjuk hulurnya.

Cuba-cuba menanam sirih,
Cekor ada tumbuh sendiri;
Cuba-cuba bertambat kasih,
Kok-kok ada tunjukkan diri.

Dari Sekara terbang pipit,
Anak ulat atas papan;
Usahkan pinang bergigit,
Pinang bulat pun saya makan.

Daun selasih daun semulih,
Pohon pinang jambatan mandi;
Mari kita bertambah kasih,
Kasih ku panjang mengikat janji.

Daun sirih jangan dikait,
Kalaulah kait mematah layu;
Telunjuk lurus kelingking berkait,
Itu pepatah orang Melayu.



Sekapur sirih datang bertandang,
Di dalam puan tersusun rapi;
Tangan dihulur mata memandang,
Sebagai cincin lekat di jari.

Sirih bertepuk pinang memusing,
Pacak buluh di atas kota;
Tak boleh duduk hati rungsing,
Tak boleh tubuh nak tengok mata.

Sirih biak di tunggul buluh,
Sirih menjadi sayap rerama;
Kasih dibuat tidak bersungguh,
Kasih di hati selama-lama.

Sirih kuning di Bongor Lombok,
Tahu diambil apek serona;
Putih kuning saranannya tajuk,
Nak panggil tak tahu nama.

Sirih kuning dari barat,
Tilam kapas jatuh keramat;
Kepala pening badan pun berat,
Kalam berlepas sudah pun tamat.

Tanam nyiur pinang tak tumbuh,
Tanam sepokok dikaut lumut;
Tidur malam lena tak sungguh,
Kerana mimpi bertukar selimut.

Tetak belimbing condong ke dapur,
Tetak tunjang dari dahan;
Minta sirih dengannya kapur,
Minta sekali dengan tuan-tuan.

read more

Kamis, 10 Juni 2010

Trio Ariel, Luna Maya dan Cut Tari Bakal Dipanggil Pihak Berwajib

Kamis, 10 Juni 2010
0 komentar
MABES Polri bergerak cepat mersepon kegelisahan masyarakat. Trio Ariel, Luna Maya dan Cut Tari dipanggil menghadap penyidik Bareskrim. Mereka akan dimintai keterangan seputar beredarnya video beraktor "mirip" ketiganya.

Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komjen Ito Sumardi menjelaskan, surat pemanggilan sudah dilayangkan. Ketiganya akan diperiksa sebagai saksi. "Semuanya kita panggil," ujarnya pada wartawan di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta kemarin.

Ito menjelaskan, beredarnya video itu meresahkan masyarakat. "Kita akan Tanya, siapa yang membuat. Kok bisa keluar , nanti kita telusuri asal usulnya," kata mantan Kapolwiltabes Surabaya itu.

Penyidik, kata Ito, akan mendalami kasus ini berdasar alat bukti yang sudah beredar di masyarakat. Selama ini, sudah ada tiga rekaman yang beredar, yakni video mirip Ariel dan Luna sebanyak dua video. Lalu, video mirip Ariel dan Cut Tari.

Mantan Koordinator Staf Ahli Kapolri itu menjelaskan, "pemeriksaan terhadap ketiganya dikarenakan dugaan perbuatan ketiganya melanggar UU Pornografi. "Kita harus mengklarifikasi, kemudian akan mencari pihak-pihak yang terkait dengan pengenaan UU Pornografi dan kepada pihak yang menyebarkan di media melalui media nanti kita kenakan juga UU ITE," katanya dengan mimic muka serius.

Selain memeriksa tiga artis papan atas itu, Kabareskrim juga mengirim surat perintah kepada Ditserse seluruh Polda se Indonesia untuk menghentikan peredaran video mesum itu. "Akan dilakukan penindakan hukum," ujarnya tanpa merinci lebih detail lagi.

Dalam pasal 29 UU Antipornografi (UU No 44/2008), pembuat video porno dapat dihukum paling rendah 6 bulan dan maksimal 12 tahun penjara dengan denda minimal minimal Rp 250 juta dan maksimal Rp 6 miliar.

Pasal 29 itu merupakan penjelasan sanksi atas pelanggaran pasal 4 UU Antipornografi. Pasal 4 UU 44/ 2008 mengatur mengenai larangan untuk melakukan pembuatan video yang mengandung unsur porno.

Sayangnya, dalam penjelasan pasal 4 ayat 1 di mana orang yang membuat video porno untuk koleksi pribadi tidak dapat dijerat pidana. Sedangkan dalam pasal 21, disebutkan bahwa masyarakat dapat melaporkan adanya tindakan yang dianggap bertentangan dengan UU itu.

Seorang penyidik Bareskrim menjelaskan, ada perintah khusus agar tiga artis itu diawasi posisinya. "Mereka dalam pengawasan polisi," jelas sumber itu.

Informasi sementara yang dikumpulkan penyidik, file video itu beredar setelah laptop milik Ariel hilang. "Kita menurunkan unit cybercrime Bareskrim," katanya.

Secara terpisah, seorang anggota cybercrime Mabes Polri membenarkan informasi ini. "Sekarang id yang mengupload pertama kali di forum dewasa sudah kami miliki," katanya.

Forum yang digunakan untuk menyebarluaskan diantaranya www.s***mat*ng.com. "Ini profesional. Orang lama di dunia forum dewasa," kata perwira muda itu.

Bahkan, tak hanya Luna dan Tari yang filenya sudah siap edar. Polisi menemukan file seseorang mirip Ariel dan artis berinisial AE. "Durasinya lama, 15 menitan. Filenya sekitar 65 MB," jelasnya.

Namun, pembuktian di dunia maya tak semudah membalikkan telapak tangan. "Rumit. Sangat complicated. Apalagi, kita belum didukung undang-undang yang cukup kuat untuk menjerat," katanya.

Misalnya, id yang digunakan seseorang untuk masuk ke forum dewasa sangat fleksibel dan pasti menggunakan nama alias. "Tapi, kita punya kiat dengan aplikasi yang kita pelajari di Singapura. Tunggu saja," katanya.

read more

Rabu, 09 Juni 2010

Cerpen : LELAKI KANVAS

Rabu, 09 Juni 2010
0 komentar
LELAKI KANVAS
oleh: Ari Laksmi 2010
Lelaki ringkih itu masih duduk mematung, memandangi kanvas kosong seputih salju, rambutnya yang berantakan menjuntai ke punggung kurusnya, jenggot dan kumis yang tumbuh tak beraturan menghiasi wajah tirusnya. sebatang kretek masih menggantung di bibirnya yang kelu. asap rokok terus mengepul memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas ini. gelas kosong bekas kopi tadi pagi masih ada di sebelahnya. berbagai macam kuas dan cat minyak bertebaran dimana-mana, menguarkan aroma khas ke angkasa, sedangkan angin bertiup kencang malam ini, masuk melalui jendela yang tak bertirai. mungkin sebentar lagi akan turun hujan. hujan yang akan menghapus setiap kenangan pahit laki-laki ini di tengah tanah kering yang telah membakar hatinya.
"kenapa berdiri disitu?", akhirnya keterkejutanku membangunkanku dari lamunan panjang.
"saya hanya mau menghantarkan kopi", jawabku kelu.
"taruh saja disitu! tolong ambilkan aku rokok sebungkus lagi!",
"tapi Bapak sudah menghabiskan banyak rokok, itu tidak baik untuk kesehatan",
"ah.... jangan mengguruiku! jangan sekali-kali mencoba untuk mengguruiku! lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, kembali ke kamarmu dan jangan kesini sebelum kusuruh!",
Air mata bergulir di sepanjang pipiku. ya Tuhan... sakit hati telah membuat laki-laki ini tak berperasaan, bahkan kepada puterinya sendiri. seingatku sebelum perempuan itu menghancurkan hidup Bapak, Bapak adalah seorang laki-laki yang amat lembut, laki-laki yang begitu perhatian dan penyayang. tiba-tiba saja, ingatanku akan perempuan jalang itu berkelebat, perempuan yang tak lain adalah Ibu kandungku sendiri, Ibu yang sudah mengandung dam melahirkanku bukan berdasarkan rasa cinta, Ibu yang sejak awal sudah tidak menginginkan kehidupanku di bumi, tetapi laki-laki ini adalah malaikatku. Bapak sudah berusaha memperjuangkan hidupku, berusaha membujuk Ibu supaya tidak membunuhku sebelum aku sempat merasakan hangatnya mentari pagi. Bapak yang begitu berani mengambil resiko padahal aku bukan darah dagingnya. begitu aku lahir ke bumi, perempuan itu meninggalkan kami. Ibu tidak tahan hidup dengan laki-laki yang pekerjaannya sehari-hari hanya menunggu inspirasi. perempuan itu lebih memilih laki-laki berdasi dengan kepala botak, itu kata Bapakku.
aku terpekur menatap langit hitam bergelayut menahan hujan, suara batuk itu terus terdengar dari kamar sebelah, Oh..... mungkinkah tubuh ringkih itu akan selamanya kuat menanggung berbagai derita?.. air mata kembali menggenangi sudut mataku, aku tak tahan lagi, hatiku hancur. luka nanar yang perih seperti menohok jantungku. aku tak mampu berbuat banyak lagi selain melihat laki-laki itu pelan-pelan digerogoti penyakit. perempuan itu tak sekalipun datang untuk sekedar menanyakan kabar Bapak. aku benci perempuan itu, aku benci telah tumbuh dan lahir dari rahim perempuan itu, perempuan yang tak berperasaan..... akhirnya rinai pertama membasahi tanah merah ini. kesunyian semakin merayapiku, gelap yang begitu hitam perlahan menenggelamkanku pada rasa kantuk yang teramat sangat. aku terlelap, dibuai sepoi angin basah, terkapar sendirian di sudut kosong.
mentari merah muda muncul di balik jendela kamarku, malam yang panjang telah ku lewati bersama mimpi-mimpi aneh yang tiba-tiba muncul dalam lelap tidurku. aku memimpikan Bapak menaiki kereta dengan enam pasang kuda melintasi malam menuju matahari, aku mendesah pelan, benarkah ini hanya mimpi belaka atau sebuah ultimatum yang akan menjadi bom waktu untukku?... suara batuk yang semakin keras telah membawaku ke alam sadar lagi. dingin mengusik kulitku, embun yang bergelayut di ujung dedaunan sebentar lagi akan jatuh, tapi ada apa dengan perasaanku pagi ini?... tiba-tiba aku seperti anak ayam yang kehilangan induk, aku merasa kesepian. bergegas aku turun dari ranjang menuju kamar sebelah, lelaki ringkih itu tertidur meringkuk diatas karpet. bau cat masih menyengat kedua matanya kelihatan sembab, ada lingkaran hitam seperti memar disana.
"Bapak tidak tidur ya semalam?", Bapak hanya menggeleng lemah dan memaksakan dirinya untuk bangkit
"mana rokokku?", katanya perlahan, aku menarik nafas dan rasanya nafasku tercekat diantara hidung dan tenggorokanku
"kata dokter, Bapak tidak boleh menghisap kretek lagi. sakit Bapak sudah terlalu parah, sebentar saya akan ambilkan air putih", belum sempat aku membalikan tubuhku, Bapak kembali berkata-kata dengan suara lantang
"jangan coba-coba menjadi perempuan jalang itu! aku benci melihat bayangannya di wajahmu, jangan coba-coba menjadi dia!",
dadaku kembali sesak "aku tak mengerti", jawabku datar. aku berlari menuju kamar mandi, kubasuh wajahku dengan air dingin, kubasuh lagi dan lagi berharap wajah perempuan itu tidak melekat lagi di wajahku, berharap tawa kemunafikannya lenyap dari wajah luguku.
senja menjadi semakin cepat menua hari ini, udara dingin terus merayapiku. betapa anehnya suasana ini. Bapak mengurung dirinya di kamar dari pagi tadi, aku hanya sempat menengoknya dari balik pintu, aku tidak mau mengganggunya, mungkin Bapak sedang mendapat inspirasi di atas kanvasnya. setelah senja semakin rapuh, Bapak memanggilku. batuk yang begitu hebat telah menghentikan aktifitasnya.
"tolong ambilkan aku air", pintanya lirih, dengan sigap aku berlari dan mengambilkan segelas air. darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya. oh,... Tuhan apa yang terjadi? aku semakin panik sementara di luar cuaca begitu buruk. angin dingin kembali merayapi tubuhku. rasa yang begitu asing kembali menjalariku. lelaki ringkih ini semakin pucat. "Bapak harus bertahan, saya akan panggilkan dokter", aku semakin panik, diluar titik-titik hujan semakin membesar, mengguyur bumi yang begitu gelap.
"jangan tinggalkan Bapak, anakku!", akhirnya keluar juga kata-kata itu, Bapak memanggilku "anak", tapi saat ini bukan waktunya berbangga diri, lelaki ini, Bapakku sudah semakin dekat dengan pintu itu, pintu gelap yang terlalu sempit..
"jangan anakku, Bapak takut sendirian, jangan tinggalkan Bapak. jangan pernah meninggalkan Bapak seperti perempuan laknat itu, Bapak takut. sebentar lagi kereta itu akan datang menjemput, Bapak tidak mau sendirian, tolong temani Bapak disini, untuk terakhir kalinya, Bapak mohon...", suaranya semakin parau,
aku berlari menghambur ke pelukannya. oh,... cerita apa lagi ini, aku tidak rela malaikatku dijemput kereta kuda itu, aku tak ingin laki-laki ini pergi begitu saja setelah ia memanggilku "anak". hatiku semakin ngilu kudekap erat Bapakku, tubuhnya semakin lemas dan nafasnya semakin melemah.
"tak akan kubiarkan kereta itu menjemputmu, malaikatku! aku akan melindungimu disini. menjauhkanmu dari ruang kosong keabadian itu", kenyataannya aku tidak bisa melawan takdir, aku tidak bisa melindungi Bapakku, aku tidak mampu menghentikan laju kereta itu. aku adalah seorang perempuan yang putusa asa di ujung maut.
"anakku, kereta itu semakin mendekatiku, tak ada satu orangpun yang dapat menghentikan lajunya, tidak juga kasih sayang yang kau berikan padaku selama ini, sesungguhnya biarkan aku damai di tengah matahari, aku sangat menyayangimu bidadari kecilku. biarkan aku memejamkan mata ini dengan tenang, biarkan aku melihat senyum tulusmu untuk terakhir kalinya, senyum perempuan laknat yang sangat aku cintai...",
"Bapak....!!!", jeritku pilu, tiba-tiba saja dunia menjadi brtambah gelap.
kereta kuda sudah ada di hadapanku dan laki-laki itu dengan ringan melangkah masuk kedalamnya, tubuh ringkihnya terlalu kecil untuk duduk di singgasananya.
senyum itu, Bapakku tersenyum untuk terakhir kalinya, untuk pergi menjauh, menjauh dan terus menjauh menuju matahari.
fajar mengawali hari yang penuh sembilu ini, tubuh kaku Bapakku masih tergolek di pangkuanku. aku masih bingung, apakah ini hanya mimpi? air mata kembali menggores pipiku, membasuh luka yang teramat dalam. semoga rinai kali ini mampu menghapus duka dalam hidupku.
"terimakasih lelaki kanvasku, kau adalah sebuah kanvas bagi hidupku. begitu putih dan suci, begitu mulia dan penuh cinta",
kini malaikatku dapat tersenyum lega di balik matahari yang perlahan mengembul dari balik bukit,,,,,

read more

Henri Dunant Bapak Palang Merah

0 komentar
 Pada 8 Mei, dunia kembali memperingati berdirinya Palang Merah Internasional (PMI). Sorotan hendaknya diarahkan kepada seorang muda yang mencetus berdirinya organisasi kemanusiaan ini. Jean Henri Dunant (1828-1910)-salah seorang warga negara Swiss-merupakan Bapak Palang Merah Dunia. Beliau dikenal sebagai seorang yang murah hati. Ia menyaksikan perang dahsyat antara Prancis dan Italia melawan pasukan Austria di Solferino, Italia Utara pada saat dalam perjalanan menemui kaisar Prancis Napoleon III. Puluhan ribu tentara terluka akibat perang dahsyat tersebut. Bantuan medis sudah kocar kacir menolong korban yang masing-masing perlu untuk didahului ditolong. Medis tetap saja tidak cukup merawat empat puluh ribu orang korban kekejaman perang tersebut.

Henri bisa saja berlalu pada saat itu. Ia memiliki dua alasan: bukan urusannya dan punya urusan lain. Namun hatinya tidak mengijinkannya berbuat seperti itu. Hatinya tergetar menyaksikan sorot mata duka dan pekikan kesakitan dari para korban perang. Dalam bayangan saya, ia mungkin saja sudah mencoba memejamkan mata dan menutup telinga untuk tidak mendengar raungan derita dan tidak melihat penderitaan sesamanya. Namun ia tak mampu. Ia kalah oleh hati nuraninya. Hatinya mencegah saat ia ingin berlalu. Hatinya melihat dan mendengar saat mata dan telinganya tertutup.

Kemudian hatinya berkata bahwa ia harus menyingsingkan lengan baju untuk menolong para korban tersebut. Ia mengusir bayangan sedang berada dalam kenikmatan jamuan Napoleon dan bersama masyarakat setempat menolong para korban. Tidak berhenti begitu saja, saat Henri ke Swiss, ia mungkin masih terbayang-bayang akan penderitaan korban perang di tempat lain. Korban perang yang memiliki sorot mata dan jeritan yang sama seperti yang ia lihat di Solferino. Ia pun menulis pengalamannya di Solferino tersebut dalam sebuah buku berjudul "Kenangan dari Solferino." yang mengguncang seluruh daratan Eropa.

Dalam bukunya, Henri mengemukakan dua gagasan dalam bukunya. Gagasan yang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang mustahil pada zaman tersebut. Namun sepertinya ia punya keinginan yang kuat untuk menolong korban perang yang sama di tempat lain. Gagasan yang melukiskan kerinduan dia agar dunia dapat mencegah kematian dalam perang terlalu banyak. Gagasan pertama yaitu membentuk organisasi kemanusiaan internasional yang bisa dipersiapkan sejak masa damai untuk menolong prajurit-prajurit yang terluka pada medan perang. Kedua, mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera di medan perang serta perlindungan sukarelawan dan organisasi tersebut pada waktu memberikan pertolongan pada saat perang.

Pada tahun 1863, empat orang warga kota Jenewa bergabung dengan Henri Dunant untuk mengembangkan gagasan pertama tersebut. Mereka bersama-sama membentuk "Komite Internasional untuk bantuan para tentara yang cedera", yang sekarang disebut Komite Internasional Palang Merah atau International Committee of the Red Cross (ICRC).

Gagasan kedua diwujudkan pada tahun 1864 atas prakarsa Swiss. Konferensi ini mencetus adanya "Konvensi perbaikan kondisi prajurit yang cedera di medan perang." Konvensi ini kemudian disempurnakan dan dikembangkan menjadi konvensi Jenewa I, II, III, dan IV tahun 1949 atau dikenal sebagai Konvensi Palang Merah. Konvensi ini merupakan salah satu komponen dari Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) yang mengatur perlindungan dan bantuan korban perang.

Sampai saat ini saja kita sudah dapat melihat apa yang dilakukan oleh seorang manusia seperti Henri Dunant. Manusia yang sederhana dengan ketulusan hati ingin menolong menghasilkan sebuah organisasi palang merah yang sudah tak terhitung lagi menyelamatkan manusia sampai hari ini. Adakah dari manusia Indonesia sekarang yang masih mau kembali berbalik seperti Henri meninggalkan seluruh aktivitasnya jikalau ada sesamanya yang membutuhkan pertolongan?

Masyarakat Indonesia apalagi di kota-kota besar kini sudah dikenal individualis. Tidak seperti di desa yang masih memiliki persaudaraan yang kuat, di kota masing-masing hidup seperti bukan menjadi sebuah masyarakat. Namun satu orang dengan orang lain seperti memiliki pagar yang tinggi. Pagar yang mencegah orang lain untuk masuk dan menghalangi diri untuk menyentuh orang lain. Makanya masyarakat sekarang ini mengenal istilah, "Bukan Urusanku, itukan urusan kamu atau dia."
Sungguh tidak terbayang apabila Henri Dunant berpikir seperti itu (bukan urusanku, itukan urusanmu) saat melintasi Solferino. Ribuan jiwa mungkin akan meninggal tanpa adanya palang merah yang terbentuk dengan kasih, ketulusan, dan pengorbanan Henri sebagai fondasinya. Masyarakat sekarang punya kesibukan, Henri juga punya. Ia sedang dalam perjalanan bertemu Napoleon. Pertemuan penting. Namun ia tinggalkan demi membasuh luka sesamanya yang terluka akibat perang. Orang-orang yang mungkin tidak ia kenal, dan bukan sebangsanya. Selain itu, pertolongan yang ia berikan selain belum tentu dapat menyelamatkan nyawa orang lain juga kemungkinan akan merenggut nyawanya. Saat itu belum ada komite yang mencetus perlindungan korban perang. Ia mungkin dapat terkena serangan saat lawan dari "pasien"nya hendak memburu pasiennya.

Sungguh sebuah ketulusan yang menohok dalam relung hati saya. Sebagai satu bangsa saja, sebagian masyarakat Indonesia sudah enggan saling menolong. Alasan kesibukan menjadi alasan bersikap kurang peduli. Hendaklah masyarakat seperti itu belajar dari Henri mengenai kasih, pengorbanan, dan ketulusan.

Satu hal yang menarik mengenai keluarga atau latar belakang Henry. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga yang dikenal tulus ikhlas dan memiliki pengaruh di Jenewa-kota asal Henri. Orang tuanya dikenal sangat menekankan nilai sosial. Ayahnya aktif membantu anak yatim. Ibunya bekerja dengan orang sakit dan miskin. Ia dididik untuk memiliki cinta kasih terhadap sesama. Ia pernah mendirikan "Kamis Asosiasi" dari kelompok muda pria yang bertemu untuk belajar kitab suci dan membantu masyarakat miskin.

Dari cerita di atas, kita belajar bahwa Henri sendiri tumbuh dalam keluarga yang mendidiknya untuk memiliki cinta kasih terhadap sesama. Ternyata peran keluarga juga cukup penting dalam melahirkan anak yang memiliki cinta kasih dan rela berkorban seperti Henri. Bagaimana dengan kita para orang tua? Apakah kita sudah mendidik anak kita untuk memiliki cinta kasih terhadap sesama? Tentunya kita merindukan agar Indonesia menjadi suatu negara yang damai, penuh cinta kasih, dan siap menolong sesama. Dalam konteks Indonesia, menolong sesama bukan berarti seperti Henri dulu menolong korban perang yang patah tangan dan kaki. Namun Indonesia butuh orang yang menolong sebagian rakyatnya yang merindukan makan. Indonesia butuh orang yang rela memberi asupan pendidikan bagi penerus bangsa yang membutuhkannya.

Banyak sekali aspek yang bisa dilakukan untuk menerapkan cinta kasih. Tentunya penerapan cinta kasih dan
tolong-menolong juga akan memajukan Indonesia dengan sendirinya. Setiap rakyat saling tolong menolong untuk keluar dari jurang kemiskinan dan rawa kebodohan. Karena itu, generasi sekarang perlu berjuang dan berusaha memiliki cinta kasih agar dapat menjadi teladan generasi selanjutnya.

Kiranya Indonesia menjadi negara yang maju, memiliki cinta kasih, dan tolong menolong. Hanya saja, pertanyaannya, siapkah engkau mulai menerapkan cinta kasih, rela berkorban, tolong menolong terhadap sesama (terutama dalam konteks Indonesia) dalam diri Anda?

read more